Apa yang kai lihat di savana? Rerumputan? Satu-dua pohon meranggas?
Di buku berjudul “Sepotong Hati yang Baru” ini Tere Liye menyajikan berbagai macam cerita pendek. Sesuai dengan judulnya cerpen ini mengkisahkan tentang sepotong hati yang baru. Sepotong hati yang baru saja hilang. Di dalamnya terdapat suatu kisah cinta legenda dan terdapat pula kisah cinta kalangan manusia biasa pada umumnya. Cerpen ke tiga berjudul Sepotong Hati yang Baru mengkisahkan ten…
Bujang yang masih saja merasa bingung soal makna pulang dan pergi. Bujang yang mengunjungi pusara orang tuanya di lembah Talang. Kenangan Bujang seputar kampung halamannya cukup menyesakkan. Intinya adalah tidak ada apa-apa di Talang yang membuatnya harus kembali secara untuh. Hal paling istimewa di Talang adalah makam kedua orang tuanya. Bujang akhirnya pergi ke Rusia untuk memenuhi keinginan …
Di Nusantara telah berdiri sebuah sekolah sihir yang letaknya di pulau tersembunyi di pusat Segitiga Masalembo.
Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, ke mana hendak pergi, melalui kenangan demi kenangan masa lalu, pertarungan hidup-mati, untuk memutuskan ke mana langkah kaki akan dibawa.
Nala dan Senja menghabiskan waktu liburan semesternya di rumah Ayu yang erupakan anak dari keluarga penyihir murni (Japa)
Thomas tengah berada di pertarungan sengit dengan Bujang. Ya, lantaran tak ada petarung lain yang dapat mengalahkannya dalam Klub Petarung, Thomas pun mengundang Bujang untuk meramaikan. Di tengah duel seru mereka, gedung tempat mereka bertarung diserang rombongan bersenjata. Awalnya Bujang merasa bahwa ia yang menjadi sasaran para pembunuh bayaran yang dikirim oleh keluarga penguasa shadow eco…
Novel ini menceritakan tentang seorang anak perempuan yang berusaha menghafal bacaan shalat.
Untuk kita, yang terlalu malu walau sekadar menyapanya, terlanjur bersemu merah, dada berdegup lebih kencang, keringat dingin di jemari, bahkan sebelum sungguhan berpapasan. Untuk kita, yang merasa tidak cantik, tidak tampan, selalu merasa keliru mematut warna baju dan pilihan celana, jauh dari kemungkinan menggapai cita-cita perasaan. Untuk kita, yang hanya berani menulis kata-kata dalam buku …
Badai kembali membungkus kampung kami. Kali ini aku mendongak, menatap jutaan tetes air hujan dengan riang. Inilah kami, Si Anak Badai. Tekad kami sebesar badai. Tidak pernah kenal kata menyerah. Buku ini tentang Si Anak Badai yang tumbuh ditemani suara aliran sungai, riak permukaan muara, dan deru ombak lautan. Si Anak Badai yang penuh tekad dan keberanian mempertahankan apa yang menjadi milik…